Setelah dilangsungkan perhelatan akad nikah secara sederhana, kami punya waktu satu minggu untuk berbulan madu. Sebagian waktu dihabiskan di Ngawi, sebagaian yang lain di Banjarnegara. DINGIN…itulah kesan pertama tentang Banjarnegara. Untuk diketahui saja, rumah kami yang di Banjar terletak 30 km dari pusat kota, naik ke arah pegunungan Dieng. Tapi dengan begitu justru bulan madu kami semakin romatis….
Seminggu telah berlalu, akhirnya kami harus pulang lagi ke Jogja, membangun peradaban baru; The Fighters Family. Ya… keluarga pejuang. Kami punya visi, agar keluarga yang baru saja kami bangun, akan tumbuh dan berkembang menjadi keluarga para pejuang di jalan Allah. Dari keluarga ini akan lahir sejumlah generasi baru yang memilki konsistensi dalam membela agama Allah. Semoga harapan ini akan terkabul….

Berbah adalah tempat pertama kami hidup bersama di Jogja. Sebuah rumah kontrakan yang cukup besar, deket kuburan dan berjarak tempuh kira-kira 30 menit ke kampus, telah menjadi saksi hari-hari pertama perjalanan hidup kami sebagai suami istri (Gambar di samping di ambil dari depan kontrakan kami di Berbah). Saya tahu…agaknya istri saya tidak terlalu cocok dengan tempat itu, selain jauh, rumah tersebut terlalu besar dan deket kuburan. Tapi apa mau dikata, waktu itu saya benar-benar sudah gak punya uang lagi setelah sedikit tabungan saya dipakai untuk operasional pernikahan. So..saya harus cari rumah kontrakan dengan harga bersahabat..akhirnya ketemu di Berbah itu. Itupun uang pinjeman dari mas Puji (temen dosen di UNY).
Nampaknya cayanqu (panggilan u/istriku) agak takut juga kalau ditinggal malam-malam. Jadi setiap saya ngisi acara atau ada liqo, pasti cayangqu ikut atau tak titipin di kos-kosan akhwat.
Sampai suatu ketika, Joga mengalami bencana dahsyat, Gempa berkekuatan 6,9 skala richter turut memporak-porandakan kontrakan kami. Saat itu saya sedang di rumah mempersiapakan acar TFT DPW, Istri kebetulan sedang ko-as di luar kota, RSUD Banyumas. Alhamdulillah, Allah masih menakdirkan kami melanjutkan perjalanan hidup ini, saya berhasil lari ke luar rumah lewat pintu belakang, sebelum rumah kontrakan kami roboh atapnya.
Sejak saat itu, kami memutuskan untuk pindah kontrakan. Sambil mencari kontrakan baru, kami terlibat menjadi relawan; istri di BSMI saya sendiri di DPW. Jika malam datang, kami nunut di Az zahro, kos-kosan ikhwan KAMDA yang dulu juga kos-kosanku.
Akhirnya kami diberi kemudahan Allah dalam hal tempat tinggal, yakni istri diminta untuk tinggal di sekretariat BSMI. Blunyahrejo TR II, 794A. Alhamdulillah, tetangga tetangga WELCOME banget…hingga kami merasakan kedekatan yang luar biasa, seperti sebuah keluarga. Kami bertahan 2 tahun tinggal di Blunyahrejo, sampai akhirnya Allah memberikan rizki kepada kita sebuah rumah yang mUngil nan asri DI BELAHAN KOTA bANTUL, yang menjadi surga, tempat peraduan kami setelah seharian mengejar rizki dari-NyA